Themis bukanlah barang biasa. Dia makhluk yang kerap disembah. Dialah benda yang disanggah sejak manusia percaya dewa-dewa. Dia pula makhluk yang terus dipuja walau manusia telah mengenal Sang Pencipta. Bahkan di era sekarang pula,
Themis kerap menemani banyak para sarjana.
Themis menjadi simbol bagi hakim, jaksa dan pengacara.
Themis menjadi simbol yang dianut setiap manusia didunia. Bahkan mampu menandingi simbol sekelas Dollar Amerika, Euro, serta beragam barang produksi sekarang. Karena sosoknya dianggap sebagai dewi keadilan. Makhluk yang mencerminkan kewibawaan hukum. Makhluk yang mencerminkan penegakan hukum telah dijalankan dengan benar. Makhluk yang menandakan sebuah hukum berdiri disuatu negeri.
Themis menjelma menjadi benda yang dipuja. Tapi, sekali lagi, bukan oleh kalangan hamba sahaya.
Di meja tamu ruangan Ketua Mahkamah Agung,
Themis berdiri gagah. Dia ada ditengah-tengah. Persis berada diantara Bagir Manan, ketua MA, dan tetamunya. Siapapun sosok yang menemui Bagir di peraduan kerjanya,
Themis selalu diantaranya. Tak beda dengan Adnan Buyung Nasution. Pengacara kawakan ini juga memelihara
Themis di meja kerjanya. Bahkan
Themis miliknya sengaja dibeli dari Belanda.
Themis sengaja diletakkan disudut kiri meja tempatnya membahas perkara yang dibelanya. Humphrey Djemat juga serupa. Dia tak beda dengan Buyung.
Themis juga diletakkannya di meja kerjanya. Indra Sahnun Lubis lebih parah lagi. Sesosok
Themis berukuran bayi manusia sengaja diletakkannya diruangan kerjanya. “Saya membelinya di Singapura,” katanya bangga. Hotman Paris Hutapea, pengacara bersuara lantang ini juga “menyembah”
Themis. Dia menghadirkannya di meja tamu, di kantornya. Begitu pula Otto Hasibuan. Ketua umum Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) ini juga berlakon serupa. Bahkan
Themis kepunyaannya diletakkan di dua tempat. Meja kerjanya dan meja menerima tamu. Hendarman Supandji tak berbeda. Dia juga memajang
Themis di meja kecil samping kursi tamu. Jaksa Agung itu tak banyak berkata. “Ini sudah ada sejak sebelum saya,” katanya.
Bukan cuma di Indonesia. Bukan hanya dikalangan para jago-jago hukum bangsa kita.
Themis ternyata disembah dimana-mana. Di Perancis, gambar
Themis terpajang persis di lembar pertama Kodifikasi Hukum Perdata Napoleon. Amerika juga sama. Katanya, sejak tahun 1890,
Themis bahkan sudah menjadi bagian dari
second county courthouse. Themis sengaja dibuat dari seng yang disepuh. Dia berdiri diatas ketinggian 172 kaki dari jalan raya di negara adidaya itu. Bahkan, di
third county courthouse, Themis justru diletakkan di suatu pedestal disamping pintu gerbang. Sejak 1960,
Themis berdiri kokoh disana. Yang lebih gila dilakonkan
Metallica. Ini bukan pengacara, hakim atau penegak hukum lainnya. Tapi grup band cadas yang sudah melegenda.
Metallica pernah menjadikan
Themis sebagai sampul depan album kebanggaan mereka. Sampul dari album yang berjudul
Justice. Artinya keadilan.
Metallica memang tak salah. Begitu juga dengan para punggawa hukum dan advokat negara kita. Mereka memelihara
Themis karena sebuah alasan. Karena
Themis dianggap sebagai dewi keadilan.
Themis dinilai simbol hukum yang menyuarakan keadilan.
Themis menjadi simbol universal penduduk dunia terhadap sebuah keadilan. Sosoknya digambarkan sebagai sebuah dewi keadilan. Dewi yang memegang pedang dan mata ditutup kain hitam. Seolah, pedang di tangan kanan
Themis siap menebas apapun yang culas. Siap memberantas segala sesuatu yang menindas. Menumpas setiap kejahatan yang merugikan manusia.
Themis adalah sosok dewi yang siap menebas setiap keangkaramurkaan yang terjadi. Tentu dengan tanpa pandang bulu.
Tapi, benarkah memang Dewi
Themis seperti itu? Pantaskan dia disebut sebagai simbol keadilan?
Kisah tentang Dewi
Themis ini sebenarnya dimunculkan oleh
Homer. Dia ini seorang sastrawan di zaman Yunani kuno. Dia hidup di era jauh sebelum kita. Sekitar abad ke-5 SM.
Homer adalah salah satu dari tiga sastrawan yang menguak takdir. Kala itu, dua penggiat sastra lainya yang melegenda adalah
Hesiodes dan
Solon. Tapi karya-karya Homer-lah yang ikut mempengaruhi
Socrates, Plato dan
Aristoteles untuk berfilsafat dengan tema hukum.
Ada dua karya sastra
Homer yang menggemparkan. Judulnya adalah "
Illiad" dan "
Odyssey". Dua buah pikiran
Homer inilah yang diyakini banyak mempengaruhi literatur dunia barat. Nah, dalam "
Illiad" itulah
Homer mendongengkan cerita
Dewi Themis.
Homer menuliskannya berpanjang-panjang. Katanya,
Themis merupakan salah satu dari bangsa Titan.
Themis adalah buah hati dari pasangan
Ouranos (dewa langit) dan
Gaea (dewa bumi). Themis tak sendiri. Dia punya sebelas saudara. Kawanan keluarga
Themis ini disebut sebagai sesepuh para dewa. Hanya karena mereka adalah kelompok dewa-dewa yang paling tua. Merekapun menjadi pemula penguasa dunia. Mereka dibekali kekuatan dan ukuran yang besar. Tapi sifat dan wataknya tak beda dengan manusia. Ada dewa yang pemarah, ada yang lemah lembut, ada pula yang gagah perkasa. Tak jarang juga yang buruk rupa.
Cronus (Saturnur), cerita
Homer, adalah salah satu saudara
Themis. Dialah yang semula menjadi penguasa tunggal dunia. Tapi, suatu ketika,
Cronus dikudeta. Pelakunya adalah anak laki-lakinya sendiri. Dialah
Zeus. Proses kudeta itu sangat berdarah. Karena melibatkan pertarungan ayah dan anak dengan lagam kekerasan. Namun pemberontakan Zeus tak berjalan sendiri. Dia dibantu dua pamannya,
Promotheus (dewa pencipta makhluk hidup) dan
Oceanus (Dewa sungai). Dua dewa ini saudara kandung
Themis.
Zeus kemudian bertahta di gunung Olympus. Dewa ini ternyata memiliki temperament tinggi. Tak jarang amarah
Zeus memuncak. Dia sering melemparkan kilat kala tengah emosi. Sasarannya adalah makhluk yang membuatnya kesal. Bukan itu saja. Dia juga gemar berpoligami. Dewi yang dikawininya tak cuma satu. Selain
Hera, dia memperistri
Demeter, Semele, Metis. Metis adalah ibu kandung
Pallas Athena. Empat istri tak juga memuaskan birahinya.
Zeus juga mengawini beberapa puteri manusia. Sebut saja nama
Danae, Alkmene dan lainnya. Buah perkawinannya dengan
Alkmene inilah yang menghasilkan
Herakles. Oleh bangsa Romawi disebut
Hercules. Pastinya,
Themis hanyalah setitik noktah di pangkuan
Zeus.
Selain mereka, tercatat beberapa saudara kandung
Themis yang memiliki peran penting. Misalnya
Dewi Tethys (istri Oceanus), Dewi Mnemosyne (dewi memori), Dewi Hyperion (bapak dari Matahari), Dewa Lapetus (ayah Pomotheus) dan dewa Atlas (dewa yang membawa dunia dengan dua bahunya). Pastinya, sejak itu
Zeus berlakon sebagai dewa-nya dewa. Dia beristrikan Hera sebagai ratu-nya dewa di jagad khayangan.
Namun,
Hesiodes menceritakan kejadian yang sedikit berbeda. Dalam karyanya, "
Theogony", justru kemudian
Zeus menikahi
Themis karena jatuh hati dengan dewi itu. Etah karena paras atau body-nya. Entah pula karena hati Themis yang dinilai bersih. Tak ada catatan pasti tentang itu. Dia tetap rela diperistri oleh keponakannya sendiri.
Themis tak berontak atau malu demi memuaskan birahi sendiri. Hasil perkawinan mereka kemudian menghasilkan tiga dewa. Mereka adalah
Eunomia (dewi kerajaan yang baik), Dike (dewi keadilan), dan Irene (dewi perdamaian).Nah, dari silsilah keluarga para dewa tadi, hanya
Themis-lah yang tetap dipuja hingga kini. Dirinya dianggap sebagai simbol keadilan. Padahal sepak terjangnya tak diketahui pasti. Terlebih lagi berkisar lakonnya dalam memperjuangkan sebuah keadilan.
Ironisnya lagi, semasa
Themis hidup, gejolak kerap terjadi.
Themis tentu menyaksikan kudeta yang dibuat
Zeus. Mengapa
Themis tak berperan? Setidaknya bila proses perebutan kekuasaan itu benar berlangsung, pedang
Themis siap memberantas kebatilan. Justru
Themis cuek bebek saja.
. Karena dia kerap dimadu oleh raja dewa itu. Tapi
diam seribu bahasa. Tak ada epos yang berkisah
itu. Tak ada rasa cemburu atau malu.
tak bersuara memperjuangkan keperempuanannya.
membabat banyak wanita.
bukanlah sosok pejuang bagi kalangannya.
, melahirnya tiga dewi. Mereka juga ternyata berjalan di rel keadilan. Tapi kini yang banyak dipuja hanyalah dia seorang. Padahal hikayat
tak begitu cemerlang. Namun, semua kalangan hukum tetap memujanya. Mulai dari ketua MA, Jaksa Agung sampai pengacara jalanan selalu percaya dirinya adalah simbol keadilan. Mereka percaya tanpa tahu siapa
bisa memperjuangkan keadilan.
Padahal, keadilan terwujud bila aturan formil di tegakkan dan keberan materil benar diungkapkan. Padahal, keadilan akan gagah bila setiap hamba hukum mengabdi penuh nurani dan etika. Padahal, keadilan akan mulia bila kita semua memang punya semangat untuk mewujudkan
semata.
NB.
Simak juga sajian bergaya serupa.
Sekadar upaya agar berpikir kembali.